Stop_Diskriminasi

Stop Diskriminasi!

Tidak banyak orang sadar bahwa perilaku diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS sangatlah berdampak buruk bagi kehidupan ODHA. Kurangnya pengetahuan mengenai cara penularan HIV/AIDS, membuat masyarakat umum menganggap berbahaya ODHA. Dibarengi dengan tidak banyaknya penyuluhan mengenai HIV/AIDS yang layak bagi masyarakat, dan tidak adanya kesadaran atau motivasi untuk mencari tahu sendiri informasi-informasi yang terkait. Yang lebih memperihatinkan adalah sikap diskriminatif yang tidak hanya dihadapi oleh ODHA tetapi juga menjadi beban bagi keluarga ODHA yang tidak terinfeksi.

Seorang nenek yang telah kehilangan anak dan mantunya karena HIV/AIDS, harus tinggal bersama dan mengasuh ketiga cucunya. Cucu pertama dan ketiga positif terinfeksi HIV/AIDS, sedangkan cucu kedua dinyatakan negatif. Tak jarang cucu-cucunya menerima perbuatan diskriminatif dari lingkungan sekitar maupun sekolah.

Cucunya yang pertama pernah diperlakukan kurang baik hingga harus pindah sekolah, namun saat itu Yayasan Vina Smart Era belum resmi berbadan hukum, sehingga belum ada tindakan yang dapat dilakukan. Tidak lama setelah kejadian tersebut, cucu keduanya yang berstatus negatif juga mendapatkan penolakan dari sekolah tempat ia mendaftar, kami datang ke sekolah untuk melakukan advokasi, bertemu dengan beberapa guru bahkan kepala yayasan.

Kami menjelaskan mengenai status anak tersebut, penjelasan bahwa bahkan sekalipun ada anak yang terinfeksi HIV/AIDS (ADHA) ingin masuk ke sekolah tersebut seharusnya tidak menjadi masalah, karena tidak ada bedanya ADHA dengan anak-anak pada umumnya.

Setelah dicari tahu, ternyata pihak sekolah sama sekali tidak bermasalah dengan anak tersebut sekolah di sana, hanya saja ada satu guru yang memberikan pernyataan yang kurang benar mengenai HIV/AIDS, sehingga setelah advokasi selesai, anak tersebut dapat melanjutkan sekolahnya di sekolah tersebut.

Kejadian yang baru-baru ini terjadi pada cucu ketiga yang duduk di kelas 5 SD. Nenek menelpon kami dan bercerita bahwa cucunya tidak mau pergi sekolah karena beberapa temannya mengejek dan mengganggunya dengan menggunakan status HIV/AIDSnya.

Menurut cerita nenek ada guru di sekolah tersebut yang memberitahu anak-anak tersebut mengenai virus dalam tubuh cucunya, tidak ingin masalah berlarut dan makin banyak diketahui orang, kami datang ke sekolah dan bertemu kepala sekolah serta guru-guru lain.

Setelah sedikit berbincang barulah diketahui bahwa bukan pihak sekolah yang memberitahukan status anak tersebut, melainkan tetangga dari teman-teman anak tersebut yang akhirnya dijadikan bahan ejekan. Kami melakukan penyuluhan kepada guru serta murid-murid dari kelas anak tersebut, dan sampai saat ini anak itu mau kembali bersekolah dan masih di sekolah yang sama.

Terkadang hanya satu atau dua orang saja yang mengambil kesimpulan sendiri mengenai HIV/AIDS dan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Mari kita sama-sama membantu menghilangkan diskriminasi terhadap ODHA maupun ADHA, karena mereka sendiri tidak mau terinfeksi, dan jangan takut tertular, karena lebih mudah flu dan hepatitis dalam menularkan dibandingkan dengan HIV/AIDS. Jauhi virusnya bukan orangnya.

Seorang nenek mempunyai tiga org cucu yg tdk punya ayah dan ibu yg meninggal krn direnggut HIV/AIDS. Cucu pertama hiv + dan ke 2 negatif, cucu yg ke 3 positif hiv. Cucu yg pertama mengalami diskriminasi di sekolah hingga harus pindah sekolah, menurut cerita nenek karena saat itu VSE belum berdiri.

Cucu ke 2 walaupun negatif mendapat perlakuan yg sama bahkan dari guru sehingga VSE melakukan advokasi hingga anak tersebut dapat melanjutkan sekolah sampai saat ini. Cucu ketiga mendapat perlakuan yg sama dari teman sekelasnya. Setelah advokasi dilakukan anak tsb dapat sekolah kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top